Selasa, 03 Juli 2012

SBY Pertimbangkan Bantuan Indonesia ke IMF


Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Firmansyah, mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih mempertimbangkan pemberian pinjaman kepada Dana Moneter Internasional sebagai komitmen untuk memperkuat permodalan lembaga tersebut.


Firman mengatakan, pertimbangan itu dilakukan karena rencana pemberian pinjaman ini bersifat sensitif. "Isu IMF sensitif terhadap pengalaman Indonesia," kata Firmansyah ketika dihubungi wartawan, Selasa (3/7/2012).


Rencana pemberian bantuan ini sempat menjadi salah satu topik bahasan pada sidang kabinet menteri beberapa waktu lalu. Firman mengatakan, Presiden memilih untuk bersikap hati-hati.


Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, Indonesia akan memberikan pinjaman kepada IMF maksimal sebesar 1 miliar dollar AS. "Indonesia sebetulnya sudah menindaklanjuti komitmen tersebut. Pertemuan G20 akan meningkatkan kekuatan IMF di aspek permodalan. Yang kemarin di Meksiko adalah pinjaman dari negara anggota IMF kepada IMF supaya keuangan IMF lebih kuat," kata Agus di DPR, Jakarta, Kamis (28/6/2012).


Agus menjelaskan, sekarang ini sebenarnya sudah terkumpul sebesar 430 miliar dollar AS di IMF. Dana tersebut dibutuhkan IMF bukan hanya untuk menyehatkan ekonomi Eropa, tetapi termasuk juga negara-negara berkembang. Indonesia yang pernah meminjam dari IMF pada tahun 2006 pun akan berkontribusi bagi permodalan lembaga itu.


Pemberian pinjaman ke IMF akan menandakan posisi Indonesia sudah lebih baik. Apalagi, kata Agus, Indonesia juga harus memerhatikan negara-negara lain yang perlu dibantu. Pinjaman ke IMF ini juga sebagai upaya mengantisipasi krisis agar tidak membahayakan perekonomian dunia. "Ini kesempatan yang baik karena Indonesia juga pernah pinjam IMF di 2006, kita sudah kembalikan," ujar Agus.


Mengenai besaran secara pasti, Agus mengatakan bahwa pemerintah masih membicarakannya. Namun, ia menyebukan maksimal dana yang dipinjamkan sebesar 1 miliar dollar AS. "Belum bisa disebutkan tetapi saya rasa maksimal 1 miliar dolar AS," tegasnya.


Ia menambahkan, pinjaman ke IMF itu bukan dari APBN. Itu semacam suatu pengelolaan dana yang merupakan bagian dari cadangan devisa negara. Praktiknya itu seperti uang kas dalam suatu perusahaan. Sebagian di antaranya, misalnya, seperempat uang kas dalam bentuk tunai dan selebihnya ditempatkan di bank.


"Kalau kita nanti memberikan bantuan pinjaman kepada IMF itu akan tetap ada di neraca Indonesia di cadangan devisa Indonesia tapi hanya tercatat sebagian ditempatkan di IMF," kata Agus..

0 komentar:

Posting Komentar