Rabu, 23 Februari 2011

..Perilaku Produsen..

Perilaku Produsen


2.1 Teori Produksi
Yang dimaksud dengan teori produksi adalah teori yang menjelaskan hubungan antara tingkat produksi dengan jumlah faktor-faktor produksi dan hasil penjualan outputnya. Di dalam menganalisis teori produksi, kita mengenal 2 hal:
1. produksi jangka pendek, yaitu bila sebagian faktor produksi jumlahnya tetap dan yang lainnya berubah (misalnya jumlah modal tetap, sedangkan tenaga kerja berubah).
2. produksi jangka panjang, yaitu semua faktor produksi dapat berubah dan ditambah sesuai kebutuhan.
Bila seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan :
1. berapa output yang harus diproduksikan
2. berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.
Untuk menyederhanakan pembahasan secara teoritis, dalam menentukan keputusan tersebut digunakan dua asumsi dasar :
1. bahwa produsen atau pengusaha selalu berusaha mencapai keuntungan yang maksimum
2. bahwa produsen atau pengusaha beroperasi dalam pasar persaingan sempurna.
Para produsen akan memahami perilaku konsumen para pemasar akan memahami bagaimana konsumen melakukan proses pembelian. Apa saja yang dilakukan konsumen sebelum mereka melakukan pembelian. Tahapan-tahapan apa saja yang terjadi sampai seorang konsumen mengambil keputusan untuk membeli.


2.2 Teori Ekonomi
                Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk. Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan:
Y = f (X1, X2, X3, ……….., Xn), dimana Y = tingkat produksi (output) yang dihasilkan dan X1, X2, X3, ……, Xn adalah berbagai faktor produksi (input) yang digunakan.

                Dalam teori ekonomi, fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut :
The Law of Diminishing Returns (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang). Hukum ini menyatakan bahwa apabila penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input yang lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan.
Hubungan produk dan faktor produksi yang digambarkan di atas mempunyai lima sifat yang perlu diperhatikan, yaitu :

Catatan :
-          Kurva Physical Total (TPP) adalah kurva yang menunjukkan tingkat produksi total pada berbagai tingkat penggunaan input variable.
-          Kurva Produk Marginal adalah kurva yang menunjukkan tambahan dari input physical product yang disebabkan oleh penhggunaan tambahan 1 unit input variable.
-          Kurva Produk rata-rata (APP) adalah kurva yang menunjukkan hasil rata-rata perunit input variable pada berbagai tingkat penggunaan input tersebut.







1. Mula-mula terdapat kenaikan hasil bertambah ( garis OB), di mana produk marginal semakin besar; produk rata-rata naik tetapi di bawah produk marginal.
2. Pada titik balik (inflection point) B terjadi perubahan dari kenaikan hasil bertambah menjadi kenaikan hasil berkurang, di mana produk marginal mencapai maksimum (titik B’); produk rata-rata masih terus naik.
3. Setelah titik B, terdapat kenaikan hasil berkurang (garis BM), di mana produk marginal menurun; produk rata-rata masih naik sebentar kemudian mencapai maksimum pada titik C’ , di mana pada titik ini produk rata-rata sama dengan produk marginal.
4. Pada titik M tercapai tingkat produksi maksimum, di mana produk marginal sama dengan nol; produk rata-rata menurun tetapi tetap positif.
5. Sesudah titik M, mengalami kenaikan hasil negatif, di mana produk marginal juga negatif produk rata-rata tetap positif.

Dari sifat-sifat tersebut dapat disimpulkan bahwa tahapan produksi seperti yang dinyatakan
dalam The Law of Diminishing Returns dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu :
a. produksi total dengan increasing returns,
b. produksi total dengan decreasing returns, dan
c. produksi total yang semakin menurun.

Disamping analisis tabulasi dan analisis grafis mengenai hubungan antara produk total, produk rata-rata, dan produk marginal dari suatu proses produksi seperti diatas, dapat pula
digunakan analisis matematis. Sebagai contoh, misalnya dipunyai fungsi produksi :
Y = 12X2 – 0,2 X3,
dimana :
Y = produk
X = faktor produksi.

2.3 Produksi Optimal
Konsep efisiensi dari aspek ekonomis dinamakan konsep efisiensi ekonomis atau efisiensi harga. Dalam teori ekonomi produksi, pada umumnya menggunakan konsep ini. Dipandang dari konsep efisiensi ekonomis, pemakaian faktor produksi dikatakan efisien apabila ia dapat menghasilkan keuntungan maksimum. Untuk menentukan tingkat produksi optimum menurut konsep efisiensi ekonomis, tidak cukup hanya dengan mengetahui fungsi produksi. Ada syarat lagi yang harus diketahui, rasio harga harga input-output. Secara matematis, syarat tersebut adalah sebagai berikut. Keuntungan (p) dapat ditulis : p = PY.Y -Px.X, di mana Y = jumlah produk;
PY = harga produk;
X   = faktor produksi;
Px = harga faktor produksi.

2.4 Least Cost Combination
Persoalan least cost combination adalah menentukan kombinasi input mana yang memerlukan biaya terendah apabila jumlah produksi yang ingin dihasilkan telah ditentukan.
Dalam hal ini pengusaha masih dapat menghemat biaya untuk menghasilkan produk tertentu selama nilai input yang digantikan atau disubstitusi masih lebih besar dari nilai input yang menggantikan atau yang mensubstitusi.

2.5 Pembahasan masalah seputar perilaku produsen dengan permasalahan pada produsen bahan pangan
Kalau kita berbicara tentang produsen, tentu saja salah satu dari tujuannya yang terbesar adalah menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal se”minim” mungkin, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang ingin merugi. Namun bila ditelaah lebih lanjut, tidak sedikit produsen yang “bermain nakal” dalam usahanya, terlebih lagi dalam bidang penyediaan bahan pangan. Banyak kasus-kasus di negeri ini tentang hal tersebut, namun pada kesempatan ini penulis hanya akan mengangkat tentang masalah tahu berformalin.

Industri tahu cenderung bersifat padat karya, yaitu lebih menekankan pada kuantitas tenaga kerja yang dipekerjakan pada bidang produksi industry tersebut. Bila dicermati lebih mendalam, industri ini mengeluarkan uang yang relatif banyak dikarenakan sifatnya yang padat karya. Pada satu sisi, meskipun gaji tenaga kerja pembuat tahu tidak besar, namun pekerjanya berjumlah banyak. Hal ini dapat kita kaitkan dengan teori produksi yang berbunyi :
“Bila seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan :
1. berapa output yang harus diproduksikan
2. berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.”
Dan bahasan Produksi Optimal yang berbunyi “Keuntungan (p) dapat ditulis : p = PY.Y -Px.X, di mana Y = jumlah produk;
PY = harga produk;
X   = faktor produksi;
Px = harga faktor produksi.”
Dengan demikian kita dapat mengetahui bahwa produsen harus memiki kemampuan untuk menentukan berapa banyak faktor produksi yang diperlukan agar harga produksi menjadi optimal.

                Namun permasalahn tidak berhenti pada poin bahasan di atas, banyak produsen yang kurang merasa puas dengan keuntungan yang diperolehnya, baik dari faktor dalam industri maupun faktur luar, dalam bahasan ini, faktor luar yang dimaksudkan adalah tidak lakunya produk jualan dikarenakan masa layak konsumsi produk yang kurang tahan lama. Maka ada produsen yang bertindak curang, diantaranya untuk menekan kerugian akibat tidak lakunya produk tahu tersebut, dalam hal ini produsen memakai formalin untuk menambah masa layak konsumsi produk tahunya.

                Bila kasus tersebut dihubungkan dengan teori Least Cost Combination, maka kita akan memperoleh keterkaitan bahwa pengusaha menghemat biaya untuk menghasilkan produk tertentu selama nilai input yang digantikan atau disubstitusi masih lebih besar dari nilai input yang menggantikan atau yang mensubstitusi. Karena bila produsen memberikan formalin pada produk tahunya, maka nilai input hanya akan bertambah sedikit, namun berdampak besar pada keuntungan yang akan diterima produsen.

Selasa, 08 Februari 2011

..Kesan Pertama Belajar Teori Organisasi Umum..

Ibu salam kenal yaa dan selamat mengajar di kelas kamii ..
kesan pertama saya belaja softskill hmm asikk banget..
senang bisa di ajar sama ibu..
ibu tuh orangnya baik,tegas,displin,bahkan mau mengajak kita untuk bangkit serta tidak bermalas-malasan..

Ibu mau mengajak kita untuk ikut berpartisipasi dalam penulisan di mata kuliah teori organisasi umum inii..kita dapat memberanikan diri untuk berinteraksi dengan orang lain dengan media blog ini..
Semoga dengan adanya ibu di kelas kami dapat menambah semangat belajar kami untuk lebih memerhatikan mata kuliah teori oraganisasi umum ini dan lebih mau berfikir dalam penulisan penulisan yang kami upload untuk mata kuliah softskill inii ..:)







Jumat, 26 November 2010

kasih sayang..

apalah artinya perbedaan dibandingkan dng banyaknya persamaan diantara kita. Bukankah kita sama2 membutuhkan sesuap nasi & seteguk air demi memenuhi lapar & dahaga. Kita juga sama2 menangis dikala sedih & tertawa di saat gembira. Kita sama2 gemetar sewaktu ketakutan melanda serta tergelak ketika kegembiraan menerpa. Kita sama2 berkeringat di bwh terik matahari, & menggigil ditelan dinginnya mlm. Tdk kah kita melihat bgitu bnyk persamaan diantara kita sampai2 pusing menghitungnya.....

lalu mengapa secuil perbedaan yg dipicu oleh keinginan, hasrat & nafsu menyangsikan semua kesamaan kita. Mengapa kita, seolah memiliki lebih bnyk wktu utk mengais-ais perbedaan, menggoreskan garis pemisah, memancang bendera kami & kau. Tidak cukupkah satu persamaan diantara kita berikut ini memupuskan kegigihan utk mempertahankan warna2 itu, bukankah kita sama2 membutuhkan kasih sayang......:)

alasan dibalik kegagalan..

Bila kita mencari alasan utk sebuah kegagalan, kita bisa temukan berjuta-juta dng mudahnya. Namun alasan tetaplah alasan, ia tdk akan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Seringkali, alasan serupa dng pengingkaran. Semakin bnyk menumpuk alasan, semakin besar pengingkaran pada diri sendiri. Ini menjauhkan kita dari keberhasilan, sekaligus melemahkan kekuatan diri sendiri. Berhentilah mencari suatu alasan utk menutupi kegagalan. Mulailah bertindak utk meraih keberhasilan.

Belajarlah dari penambang yg tekun mencari emas. Ditimbanya berliter-liter tanah keruh dari sungai, ia saring lumpur dari pasir. Ia sisir pasir dari logam, tak jemu ia lakukan hingga tampaklah butiran emas berkilauan. Begitulah semestinya kita memperlakukan kegagalan. kegagalan iru sperti pasir keruh yg menyembunyikan emas. Bila kita terus , tekun mencari perbaikan di sela2 kerumitan, serta berani menyingkirkan alasan2 maka kita akan menemukan cahaya kesempatan. Hanya mencari alasan, sama saja dng membuang pasir dan emas yg ada didalamnya......:)

slalu ada sisi baik..

jadilah org yg slalu optimis & berusaha utk melihat kesempatan di setiap kegagalan. Jng bersikap pesimis yg hanya melihat kegagalan disetiap kesempatan. Org optimis melihat donat, sedangkan org pesimis melihat lubangnya saja....

Kita dpt mengembangkan keberhasilan dari setiap kegagalan. Keputusasaan & kegagalan adalah dua batu loncatan menuju keberhasilan. Tdk ada elemen lain yg begitu berharga bagi kita jika saja kita mau mempelajari & mengusahakannya bekerja utk kita.....

Pandanglah setiap masalah sbg kesempatan. Hanya bila cuaca cukup gelaplah kita bisa melihat bintang....:)

tindakan kita sebatas kita memandang dunia..

bila kita memandang diri kita kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan kita pun jadi kerdil.....
Namun bila kita memandang diri kita besar, dunia terlihat luas kita pun melakukan hal2 penting & berharga......
Tindakan kita adlah cermin bgmn kita melihat dunia. Sementara dunia kita tak lebih luas dari pikiran kita tentang diri kita sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan utk berprasangka positif pada diri sndiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah & bertindak selaras dng kebaikan2 yg ada dlm pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa2 dari kita. Ia hanya memantulkan apa yg ingin kita lihat. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri...
Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui diatas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan dunia pun menampakkan realitanya yg selama ini tersembunyi di balik penilaian2 kita......

Satu Langkah Ke Depan..

tetaplah bergerak maju, sekalipun lambat. Krn dlm keadaan tetap bergerak kita menciptakan kemajuan. Adalah jauh lbh baik bergerak maju sekalipun pelan daripada tdk bergerak sama sekali....
Dlm hidup kita sering merasa buntu hnya krn kita ingin mengambil satu langkah yg trlalu besar. Akibatnya masalah kita jadi terlihat besar skali, kompleks & tak terselesaikan. Hasilnya kita hanya dpt termenung & tdk bergerak......
Sabar dan coba mundur sbntar, perhatikan tantangan kita. Tidakkah lebih memungkinkan bagi kita utk mengambil langkah2 pendek terus menerus, ketimbang berusaha menelan semua masalah sekaligus. Satu langkah kecil demi satu langkah kecil, asalkan kita tdk berhenti adalah cukup. Krn kita msh memiliki hari esok & msh ingin bergerak maju dan bukan berhenti.........^_^